Prestasi Tito Karnavian, dari Kanit Hingga Duduk di Kursi Mendagri


Menteri Dalam Negari (Mendagri) Tito Karnavian punya berbagai prestasi, latarbelakangnya sebagai Kapolri membuat Presiden Joko Widodo memilihnya untuk duduk di jajaran menteri di Kabinet Indonesia Maju.





Lulus dari Akademi Kepolisian pada 1987, Tito mengawali karirnya di Polres Jakarta Pusat sebagai Kanit Jatanras Reserse Polres Metro Jakarta Pusat pada tahun 1987 hingga 1991. Pria kelahiran Palembang, 26 Oktober 1964 ini merupakan penerima Bintang Adhi Makayasa sebagai lulusan terbaik. Saat itu ia berumur 23 tahun.





Pada 1996 Tito juga mendapat penghargaan Bintang Wiyata Cendekia sebagai lulusan Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) terbaik dan penerima Bintang Seroja sebagai peserta Lemhanas Lemhannas RI PPSA XVII terbaik pada 2011.





Berikut sejumlah prestasi Tito Karnavian yang dirangkum Ibukata.





Ketua Tim Kobra





Pada 2001, Tito ditunjuk sebagai ketua Tim Kobra untuk mencari putra bungsu presiden RI kedua Soeharto, Hutomo Mandala Putra atau yang dikenal dengan nama Tommy Soeharto.





Tim yang beranggotakan 25 orang tersebut berhasil membekuk Tommy dari tempat persembunyiannya di Jalan Maleo II Nomor 9, Bintaro Jaya, Tangerang pada 28 November 2001. Kala itu, Tito menjabat Kepala Satuan Reserse Umum Polda Metro Jaya dengan pangkat Komisaris Polisi.





Tommy merupakan buronan kasus korupsi tukar guling tanah gudang beras milik Bulog seluas 502.340 meter di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara kepada PT Goro batara Sakti (GBS). Perusahaan ini dinyatakan pailit atau bangkrut pada 2006 lalu.





Selain kasus korupsi tukar guling, Tommy merupakan terdakwa kasus pembunuhan Hakim Agung MA Syafiuddin Kartasasmita. Hakim yang menjatuhkan vonis bersalah dalam putusan kasasi kasus tukar guling tanah Bulog.





Penangkapan Tommy Soeharto merupakan salah satu prestasi yang melejitkan Tito Karnavian di Korps Bhayangkara. Ia pun mendapat kenaikan pangkat dari melati satu menjadi melati dua atau Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP).





Bagian Pasukan Anti Teror





Tito pernah bertugas di Detasemen Anti Teror 88 (Densus 88) Polda Metro Jaya. Di kesatuan yang beranggotakan 75 orang ini Tito berhasil membongkar jaringan teroris kelompok Azahari Husin dan melumpuhkan Azahari di Batu, Malang, Jawa Timur pada 9 November 2005. Atas prestasinya ini, Tito mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa dari AKBP menjadi Komisari Besar Polisi (Kombes).





Pada 2007 tim yang dipimpin Tito berhasil menangkap orang yang paling dicari dalam kasus Poso. Kemudian pada 2009 Tito bersama perwira Polri lain berhasil membekuk pimpinan jaringan teroris Noordin M Top. Tito lagi-lagi mendapat kenaikan pangkat luar bisa dari melati tiga atau Kombes menjadi Brigadir Jenderal Polisi.





Kesuksesan ini membuahkan hasil yakni, ia dipercaya menjabat sebagai Kepala Detasemen Khusus 88 Antiteror (Kadensus 88/AT) Mabes Poldi pada 2009 hingga 2010 dan Deputi Penindakan dan Pembinaan Kemampuan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada 2011 hingga 21 September 2012.





Memimpin Ibu Kota dan Tanah Papua





Prestasi-Tito-Karnavian
Tito Karnavian saat menjabat Kapolda Papua. (Wikipedia)




Prestasi Tito di Kepolisian membuatnya dipercaya memimpin Papua dan Ibu Kota Jakarta. Di Papua Tito menekan aksi penembakan misterius dan kontak tembak aparat keamanan dengan kelompok sparatis.





Namun posisinya memimpin Papua hanya bertahan lama, yakni mulain 21 September 2012 hingga 16 Juli 2014. Saat memimin Papua, Tito berpangkat Inspektur Jenderal Polisi.





Tito kembali ke Jakarta untuk menempati jabatan Asisten Kapolri Bidang Perencanaan Umum dan Anggaran (Asrena) pada 16 Juli 2014 hingga 12 Juni 2015. Tugasnya membantu Kapolri dalam penyelenggaraan fungsi perencanaan umum dan pengembangan, termasuk pengembangan sistem organisasi dan manajemen serta penelitian dan pengembangan dalam lingkungan Polri.





Tak lama menjadi asisten kapolri, Tito ditugaskan untuk memimpin Polda Metro Jaya pada 12 Juni 2015–16 Maret 2016. Prestasi yang diukir Tito saat menjadi Kapolda Metro Jaya yakni menangani serangan teroris di kawasan Jalan M.H Thamrin, Jakarta Pusat atau yang dikenal dengan teror Bom Sarinah Thamrin. Dalam kurun waktu kurang dari lima jam peristiwa teror dapat dilumpuhkan dan kondisi Jakarta dapat kembali dikuasai.





Kasus lain yang ditangani Polda Metro saat dipimpin Tito yakni kasus pembunuhan Wayan Mirna. Perempuan 27 tahun diketahui dibunuh menggunakan zat sianida dikedai kopi pusat perbelanjaan Jakarta Pusat, oleh Jessica Kumala Wongso. Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menjatuhkan hukuman 20 tahun penjara kepada Jessica Kumala Wongso dalam kasus pembunuhan berencana terhadap Wayan pada 27 Oktober 2016.





Jadi Kepala Badan Penanggulangan Teroris





Prestasi-Tito-Karnavian
Tito Karnavian saat menjabat Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris. (Wikipedia)




Prestasi Tito terus berlanjut, sembilan bulan jadi Kapolda, ia ditunjuk sebagai Kepala BNPT pada 14 Maret 2016. Pangkatnya pun ikut naik jadi bintang tiga, atau Komisaris Jenderal Polisi (Komjen Pol).





Posisi Tito di BNPT tak berlangsung lama, tiga bulan di BNPT, Presiden Joko Widodo mengajukan namanya untuk menjadi Kapolri menggantikan Badrodin Haiti yang akan segera pensiun.





Setelah melewati uji kelayakan dan kepatutan di DPR, Presiden melantik Tito sebagai Kapolri pada 13 Juli 2016 diikuti dengan kenaikan pangkat menjadi Jenderal Polisi.





Pada tanggal 22 Oktober 2019, Tito diberhentikan dengan hormat oleh Presiden melalui surat yang ditujukan kepada DPR-RI dan disetujui dalam sidang paripurna ke-3. Tito kemudian dilantik pada tanggal 23 Oktober 2019 untuk memimpin di Kementerian Dalam Negeri dalam Kabinet Indonesia Maju pada masa pemerintahan Joko Widodo-Ma'ruf Amin periode 2019-2024.





Jabatan di Kepolisian





Prestasi-Tito-Karnavian
Tito Karnavian (dua dari kiri) saat pendidikan di Akademi Kepolisian. (Instagram @ringkasansejarah)




Kariernya Tito di Kepolisian terus mengalir mulai di Polsek, Polres, Polda, hingga di Polri. Mulai dari dari reserse, sespri Polri, anti teror, hingga Asrena Polri.





Tito pernah menjadi Wakapolsek Metro Senen dan Wakapolsek Metro Sawah Besar. Kemudian Sespri Kapolda Metro Jaya pada 1996, tak lama kemudian Tito dipercaya memimpin Polsek Cempaka Putih, Jakarta Pusat di tahun yang sama. Jabatan Kapolsek hanya diemban selama setahun, Tito dipercaya menjadi Sespri Kapolri pada 1997. Berikut perjalanan karir Tito Karnavian disalin dari Wikipedia.





  • Pamapta Polres Metro Jakarta Pusat Polda Metro Jaya (1987)
  • Kanit Jatanras Reserse Polres Metro Jakarta Pusat Polda Metro Jaya (1987–1991)
  • Wakapolsek Metro Senen Polres Metro Jakarta Pusat Polda Metro Jaya (1991–1992)
  • Wakapolsek Metro Sawah Besar Polres Metro Jakarta Pusat Polda Metro Jaya
  • Sespri Kapolda Metro Jaya (1996)
  • Kapolsek Metro Cempaka Putih Polres Metro Jakarta Pusat Polda Metro Jaya (1996–1997)
  • Sespri Kapolri (1997–1999)
  • Kasat Serse Ekonomi Reserse Polda Metro Jaya (1999–2000)
  • Kasat Serse Umum Reserse Polda Metro Jaya (2000–2002)
  • Kasat Serse Tipiter Reserse Polda Sulsel (2002)
  • Koorsespri Kapolda Metro Jaya (2002–2003)
  • Kasat Serse Keamanan Negara Reserse Polda Metro Jaya (2003–2005)
  • Kaden 88 Anti Teror Polda Metro Jaya (2004–2005)
  • Kapolres Serang Polda Banten (2005)
  • Kasubden Bantuan Densus 88/AT Bareskrim Polri (2005)
  • Kasubden Penindak Densus 88/AT Bareskrim Polri (2006)
  • Kasubden Intelijen Densus 88/AT Bareskrim Polri (2006–2009)
  • Kadensus 88/AT Bareskrim Polri (2009–2010)
  • Deputi Penindakan dan Pembinaan Kemampuan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) (2011–21 Sept 2012)
  • Kapolda Papua (21 Sept 2012–16 Juli 2014)
  • Asrena Polri (16 Juli 2014–12 Juni 2015)
  • Kapolda Metro Jaya (12 Juni 2015–16 Maret 2016)
  • Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) (16 Maret 2016–13 Juli 2016)
  • Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (13 Juli 2016–22 Oktober 2019)
  • Menteri Dalam Negeri Kabinet Indonesia Maju (23 Oktober 2019 - Sekarang)




Keluarga dan Pendidikan





Prestasi-Tito-Karnavian
Tito Karnavian bersama sang Istri, Tri Suswati. (Instagram/@titokarnavianfans)




Tito merupakan anak kedua dari enam bersaudara. Ayahnya bernama Muhammad Saleh dan sang Ibu bernama Supriatini.





Tito menikah dengan Tri Suswati sejak tahun 1991 dan dikaruniai tiga orang yakni Muhammad Garda Ramadhito, Laviyah Augusta dan Muhammad Taufan. .





Tito menempuh pendidikan di SD Xaverius 4, SMP Xaverius 2, dan SMA Negeri 2 Palembang. Usai lulus SMA, Tito dihadapkan banyak pilihan untuk meneruskan pendidikannya. Sang ayah menginginkan Tito menjadi dokter. Keinginan sang ayah terpenuhi setelah Tito dinyatakan lulus di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang. Namun Tito muda memiliki pilihan sendiri yakni masuk Akpol. Hal ini lantaran Tito melihat biaya kuliah di kedokteran tidaklah sedikit. Menurutnya pendidikan di Akpol gratis dan dibiayai pemerintah.





Usai menyelesaikan pendidikan di Akpol dan PTIK, Tito meneruskan jenjang magister di University of Exeter, Inggris pada 1993. Ia mengambil bidang Police Studies. Lima tahun kemudian Tito kembali ke bangku kuliah dan mendapat gelar Bachelor of Arts (BA), pada bidang Strategic Studies dari Massey University Auckland Selandia Baru.





Untuk gelar Doctor of Philosophy (Ph.D) dalam bidang Strategic Studies didapat dari Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University, Singapura pada 2013.


Related Posts

Prestasi Tito Karnavian, dari Kanit Hingga Duduk di Kursi Mendagri
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.