Profil Terawan, Menkes Ketiga dari Kalangan Militer


Letnan Jenderal TNI (Letjen) Dr. Terawan Agus Putranto SpRad(K) dipilih Presiden Joko Widodo untuk menjabat Menteri Kesehatan di Kabinet Indonesia Bersatu.





Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto ini merupakan lulusan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Gajah Mada (UGM). Kampus yang sama dengan Jokowi.





Nama Terawan mencuat setelah Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mempertanyakan metode "cuci otak" yang diterapkan lulusan Sepawamil tahun 1990 itu untuk menyembuhkan penderita stroke.





Majelis Kehormatan Etik Kedokteran IDI mengeluarkan empat sanksi terhadap Terawan terkait video berjudul Brain Spa/Brainwash/DSA Klinik Dr. Terawan RS Awal Bros Bekasi yang dipublikasikan RS Awal Bros Bekasi di YouTube pada 13 Juli 2015.





Intinya Terawan melanggar kode etik kedokteran, metode yang bernama Digital Substraction Angiography (DSA) itu juga dinilai belum teruji selama ilmiah.





Dibalik kontroversi metode yang digunakan, Terawan tetap dipercaya sebagai Menteri di kabinet Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Berikut profil Terawan Agus Putranto yang dirangkum Ibukata dari berbagai sumber.





Besar di Kota Gudeg





Profil-dr-Terawan
Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto bersama Istri Ester Dahlia/Facebook.




Terawan Agus Putranto lahir di Sitisewu, Yogyakarta, 5 Agustus 1964. Dalam sejarahnya, Kampung Sitisewu merupakan tempat tinggal Abdi Dalem yang bertugas mengatur penyediaan tenaga kerja (bau suku) yang dibutuhkan keraton.





Menkes yang besar di Yogyakarta, ini dikenal dengan nama Kota Gudeg atau Kota Keraton. Pendidikan dasar ditempuhnya di SD Tarakanita Bumijo Yogyakarta dan lulus tahun 1977.





Terawan melanjutkan sekolah menengah pertama di SMPN 2 Yogyakarta lulus tahun 1980, kemudian SMA Bopkri 1 Yogyakarta yang lulus pada tahun 1983.





Terawan memang bercita-cita untuk masuk ke dunia kesehatan, Setelah tamat SMA, ia diterima di FK UGM. Tekatnya untuk terjun di dunia kesehatan sudah terlihat saat diperkuliahan. Ia lulus pada tahun 1990 dan mendapat predikat dokter di usia yang cukup muda, yakni 26 tahun.





Setelah lulus dari FK UGM, Terawan terjun ke militer dengan mengikuti Sepawamil atau yang dikenal sekarang sebagai Sekolah Perwira Prajurit Karier Tentara Nasional Indonesia pada tahun 1990. Berbekal pendidikan dinas, Terawan melanjutkan mengambil spesialis di bidang Radiologi di FK Universitas Airlangga, Surabaya pada tahun 2004.





Sembilan tahun tepatnya tahun 2013, Terawan melanjutkan ke jenjang Doktor di FK Universitas Hasanuddin, Makassar. Judul disertasi Terawan adalah "Efek Intra Arterial Heparin Flushing Terhadap Regional Cerebral Blood Flow, MOtor Evokde Potentials, dan Fungsi Motorik pada Pasien dengan Stroke Iskemik Kronis" dengan promotor dekan FK Unhas, Prof Irawan Yusuf, PhD.





Terawan menikah dengan Ester Dahlia dan memiliki anak bernama Abraham Apriliawan.





Tim Dokter Kepresidenan





Terawan memutuskan untuk mengabdikan dirinya di instansi militer Angkatan Darat. Dia kemudian ditugaskan ke beberapa daerah, di antaranya Bali, Lombok, dan Jakarta.





Ia pernah menjadi Tim Dokter Kepresidenan RI pada 2009. Pada 2015, dirinya dipercaya oleh TNI AD untuk memimpin RSPAD. Hal ini didasari pengalaman dan ilmu yang dimiliki Terawan. Sebelum memimpin RSPAD, Terawan sudah berpangkat jenderal bintang satu atau Brigadir Jenderal TNI (Brigjen TNI).





Kenaikan Pangkat Luar Biasa





Profil-dr-Terawan
Acara perpisahan Dr. Terawan bersama karyawan Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat/Facebook.




Pada 8 September 2016, Terawan mendapat kenaikan pangkat luar biasa menjadi Mayor Jenderal TNI. Kenaikan pangkat ini diperoleh setelah tiga tahun setelah dirinya berpangkat Brigjen TNI. Tepatnya pada 26 Agustus 2013.





Ia kembali mendapat kenaikan pangkat luar biasa lima hari sebelum dilantik sebagai menteri kesehatan. Tepatnya pada 17 Oktober 2019. Terawan diberikan kenaikan pangkat luar biasa menjadi Letjen atau Jenderal bintang tiga oleh Presiden Jokowi. Kenaikan pangkatnya tertuang dalam surat Keputusan Presiden dengan nomor 87/TNI/Tahun 2019 yang ditetapkan pada tanggal 17 Oktober 2019.





Dalam surat tersebut, tertulis "Menganugerahkan Kenaikan Pangkat Luar Biasa Operasi Militer Selain Perang, satu tingkat lebih tinggi kepada Perwira Tinggi Tentara Nasional Indonesia dari Mayor Jendral TNI menjadi Letnan Jendral TNI atas nama Mayjen TNI Dr. dr. Terawan Agus Putranto, Sp.Rad (K) RI NRP 32512, terhitung mulai tanggal ditetapkan Keputusan Presiden ini".





Dokter Terawan diumumkan masuk dalam Kabinet Indonesia Maju dan resmi dilantik sebagai menteri kesehatan pada Rabu 23 Oktober 2019 pagi.





Menkes Ketiga dari Militer





Terawan merupakan Menteri Kesehatan ke-21 sejak Kabinet Presidentil yang dibentuk pada 19 Agustus 1945. Dua hari setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang dibacakan Soekarno dan Mohammad Hatta.





Ia merupakan Menkes ketiga dari kalangan militer. Sebelum Terawan ada Dr. Johannes Leimena Menkes ke-3 yang lahir di Ambon, Maluku pada 6 Maret 1905 dan meninggal di Jakarta pada 29 Maret 1977. Leimena pernah menyandang pangkat Laksamana Madya TNI AL ketika ia menjadi anggota Komando Operasi Tertinggi (KOTI) dalam rangka Trikora.





Selanjutnya ada Mayjen. TNI (Purn) Dr. Abdul Azis Saleh. Menteri Kesehatan ke-9 saat pemerintahan Presiden Soekarno. Abdul Aziz lahir di Boyolali, Jawa Tengah, 20 September 1914 dan meninggal di Jakarta pada 3 April 2001.





Ia pernah menjabat sembilan tahun sebagai menteri, sejak Kabinet Djuanda sampai Kabinet Dwikora I.





Metode Cuci Otak dan Para Pasien





Metode terapi cuci otak dan penerapan program Digital Substraction Angiogram (DSA) yang menuai kontroversi ternyata telah menyembuhkan 40 ribu pasien. Mulai dari kalangan umum hingga tokoh nasional. Seperti Wakil Presiden Indonesia ke-6 Try Sutrisno, mantan kepala BIN Hendroproyono, hingga tokoh pres Dahlan Iskan hingga Prabowo Subianto, Ketua Umum Partai Gerindra yang kini menjadi rekan kerja Terawan di Kabinet Indonesia Maju.





Bahkan metode pengobatan tersebut bahkan telah diterapkan di Jermandengan nama paten ‘Terawan Theory’.





Penghargan Terawan









Berkat kepiawaiannya menangani pasien stoke, sejumlah penghargaan telah diterimanya. Di antaranya penghargaan Hendropriyono Strategic Consulting (HSC) pada 2015 dan dua rekor MURI sekaligus sebagai penemu terapi cuci otak dan penerapan program DSA terbanyak.





kemudian, Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Yogyakarta pada 2016 dan Achmad Bakrie Award Bidang Kedokteran pada 2017.





Terawan juga pernah menerima beberapa penghargaan dari negara atas jasa-jasanya, antara lain Bintang Mahaputra Nararya, Bintang Yudha Dharma Pratama, Bintang Kartika Eka Paksi Pratama, Bintang Yudha Dharma Nararya, Bintang Kartika Eka Paksi Nararya.





Ia pernah menjabat Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Radiologi Indonesia, Ketua ASEAN Association of Radiology, dan Ketua World International Committee of Military Medicine.





Baca profil lainnya di Ibukata


Related Posts

Profil Terawan, Menkes Ketiga dari Kalangan Militer
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.